Thursday, June 12, 2014

Penugasan Pertama : Mengungkap Kematian Kakak-beradik Felicia dan Valeria

Jambret Sukomanunggal Berdarah
Karir saya sebagai Kanit Kejahatan Umum (Jatanum) Polwiltabes Surabaya diawali oleh munculnya kasus kejahatan jalanan "jambret" yang biasa saja, namun dikarenakan reaksi korban yang memacu motornya dengan kecepatan tinggi hingga mengalami kecelakaan tunggal dan kemudian meninggal dunia, membuat kasus ini menjadi luar biasa. Mereka adalah Alm. Felicia (34) dan Alm.Valeria (33), kakak beradik yang pada hari Minggu tanggal 13 Februari 2011 sedang dalam perjalanan menuju gereja, melintas di Jalan Darmo Harapan yang sepi dan rimbun. Dalam posisi yang menguntungkan penjambret, yaitu tas korban yang diletakkan pada bahu kanannya, membuat si pelaku dengan mudah merebut tas tersebut dari sisi kanan hanya dengan satu rampasan tangan kiri. Sontak Alm. Felicia kaget dan berusaha mengejar si pelaku, namun naas dia tak mampu mengendalikan laju motornya hingga menabrak tembok rumah di Jalan Raya Satelit Selatan. Adiknya meninggal di tempat dan sang kakak menyusul kemudian setelah dirawat di RS Mitra Keluarga. 

Investigasi kasus ini tidaklah mudah. Dalam tekanan publik yang luar biasa, kami unit Jatanum harus mencari si pelaku tanpa petunjuk yang terang. Tidak ada rekaman CCTV yang mendukung, tidak ada saksi selain korban yang mengetahui ciri-ciri pelaku, hanya ada satu saksi satpam yang sempat melihat si pelaku dari kejauhan. Menurut dia si pelaku beraksi seorang diri dan menggunakan kaos coklat, hanya itu saja. Mustahil bagi kami mendapatkan petunjuk yang mengerucut kepada satu identitas pelaku tertentu. Dua hal yang mengganggu pikiran saya saat itu, adalah kapabilitas saya yang akan hancur jika kasus ini tidak terungkap. Sedangkan di satu sisi kematian para korban akan selalu menjadi beban moral bagi saya jika si pelaku tidak tertangkap. Berbekal lokasi terakhir matinya sinyal ponsel korban di sebuah jalan utama, kami memulai pencarian si pelaku. Singkat cerita, friksi kecil di kelompok anak jalanan membuat secercah harapan muncul untuk mengungkap kasus ini, hingga akhirnya si pelaku Sahroni alias Roni (22) tertangkap.

Satu kisah yang menyedihkan, keluarga korban shock atas kepergian kakak beradik ini. Bahkan untuk dimintai keterangan dalam rangka kelengkapan pembuktian pun mereka menolak. "Kematian mereka cukuplah menjadi penderitaan bagi kami, kami tidak mau tau siapa pelakunya" ucap orang tuanya kepada saya. Sungguh sebuah goncangan jiwa yang haruslah dipermaklumkan.

Kejadian memilukan seperti ini tidaklah boleh terulang lagi. Untuk mencegah kejadian tersebut terulang, tidaklah cukup upaya-upaya terorganisir dari kepolisian saja. Pemerintah kota / daerah harus duduk bersama untuk menyelesaikan masalah-masalah jalanan seperti ini. Perencanaan tata kota idealnya harus dikelola dengan cermat dengan mempertimbangkan rekomendasi dari kepolisian tentang kerawanan wilayah. Jangan ada lagi jalanan yang gelap, dan jangan ada lagi kamera CCTV milik pemerintah yang diposisikan hanya untuk kepentingan tugas-tugas perekonomian semata. Masyarakat pun harus membuka diri untuk berkomunikasi dengan polisi, begitu pula sebaliknya. Singkirkan semua persepsi negatif satu sama lain, baik polisi yang beranggapan bahwa warga tidak mau tahu lingkungannya, maupun warga yang beranggapan bahwa polisi tidak melayani mereka dengan baik. Sudah saatnya polisi men-tweet informasi keamanan di tiap wilayah dan sudah saatnya warga menjadi para follower-nya. Komunikasi, komunikasi, dan komunikasi, semua untuk keamanan masyarakat.

No comments:

Post a Comment