![]() |
| Paparan Hasil Penelitian |
Pokok
permasalahan dalam penulisan ini adalah ”Apakah terdapat pengaruh efektivitas pengendalian Case Organizer Program (COP),
kepemimpinan supervisor dan pendisiplinan terhadap penyimpangan penyidik di Satreskrim Polrestabes Surabaya?”
Kepustakaan penelitian menggunakan hasil penelitian
Achmad Akbar Mahasiswa PTIK Tahun 2011, Wisnu Wibowo Mahasiswa PTIK Tahun 2010,
Surisman Mahasiswa PTIK Tahun 2006 dan Izzet Lofca, B.A. mahasiswa Master of
Science University of North Texas Tahun 2002. Kepustakaan konseptual menggunakan konsep pendisiplinan internal, sistem informasi manajemen, kepemimpinan dan
disiplin.
Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan
manfaat dan informasi
serta bukti
empiris mengenai pemanfaatan
teknologi informasi dalam mengelola organisasi.
Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi dan referensi bagi Polri, khususnya Korps Reserse mengenai langkah-langkah komprehensif untuk menekan
penyimpangan penyidiknya.
Pendekatan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Metode penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode survei. Populasi yang
seluruhnya digunakan sebagai sampel sejumlah 136 orang merupakan penyidik yang bertugas di Satreskrim Polrestabes
Surabaya. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan
kuesioner. Teknik analisis data menggunakan uji validitas dan
reliabilitas, uji asumsi klasik dan uji hipotesis.
Temuan Penelitian Dan Pembahasan
Untuk mengatasi masalah besar organisasional kepolisian yaitu penyimpangan penyidik (Y), salah satu metode yang dapat diterapkan ialah melalui perbaikan
organisasi dan manajemen. Dengan menerapkan metode tersebut, yang terfokus pada
penyelesaian masalah terbesar terlebih dahulu, yaitu korupsi, maka penyimpangan
secara umum dapat dikendalikan lebih
baik. Terkait hal ini, Lawrence W. Sherman
berpendapat bahwa dalam mengendalikan korupsi, terdapat 3 pendekatan berbeda
yaitu: (1) Internal Accountability (Akuntabilitas
Internal); (2) Tight Supervision (Pengawasan
ketat); (3) Abolition of Procedures
Encouraging Corruption (Penghapusan prosedur yang dapat meningkatkan
korupsi) [1]. Mengacu pada teori tersebut, variabel bebas dalam penelitian ini diturunkan menjadi Efektivitas Pengendalian Case Organizer Program (COP) (X1), Kepemimpinan Supervisor (X2), dan
Pendisiplinan (X3).
Berikut hasil perhitungan nilai t
hitung dan taraf signifikansinya. Dari hasil masing-masing variabel (X1, X2 dan
X3), jika nilai probabilitas dibawah 0.05 atau nilai thitung > ttabel
[a =0.05, df=n–k (k =
banyaknya variabel)]
atau – thitung > – ttabel [a
=0.05, df=n–k (k = banyaknya variabel)]
maka variabel tersebut dianggap berpengaruh dan sebaliknya jika nilai
probabilitas diatas 0.05 atau nilai thitung < ttabel
atau – thitung < – ttabel maka variabel tersebut
dinyatakan tidak berpengaruh sama sekali.
Tabel Uji t (Uji Parsial)
|
|||||||||||
Model
|
Unstandardized
Coefficients
|
Std.ed Coeffs
|
t
|
Sig.
|
|||||||
B
|
Std. Error
|
Beta
|
|||||||||
1
|
(Constant)
|
135,699
|
16,850
|
8,053
|
0,000
|
||||||
X1
|
0,824
|
0,305
|
0,249
|
2,706
|
0,008
|
||||||
X2
|
- 1,178
|
0,273
|
- 0,523
|
-4,323
|
0,000
|
||||||
X3
|
- 1,324
|
0,262
|
- 0,140
|
- 1,237
|
0,218
|
||||||
a. Dependent Variable: Y
|
|||||||||||
Sumber
: Hasil Pengolahan Data Lapangan, 2014.
Tabel Korelasi Parsial Variabel X1, X2,
dan X3 terhadap Y
Coefficientsa
|
||||
Model
|
Correlations
|
|||
Zero-order
|
Partial
|
Part
|
||
1
|
X1
|
-0,129
|
0,229
|
0,200
|
X2
|
-0,482
|
-0,352
|
-0,320
|
|
X3
|
-0,408
|
-0,107
|
-0,092
|
|
a. Dependent
Variable: Y
|
||||
Sumber
: Hasil Pengolahan Data Lapangan, 2014.
1) Karena thitung > ttabel maka
diputuskan terima H0 artinya terdapat
pengaruh
efektivitas pengendalian Case Organizer
Program (COP) terhadap
penyimpangan anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya). Fakta yang diperoleh ini menguatkan Routine Activities Theory yang
disampaikan oleh Cohen dan Felson[2],
bahwa dengan hadirnya Case Organizer
Program (COP) yang diasumsikan sebagai Capable
Guardian, maka peluang terjadinya penyimpangan (dalam hal ini sebagai
asumsi dari kejahatan) menjadi kecil. Kesimpulan ini menjelaskan terjadinya
penurunan jumlah pengaduan masyarakat (yang masuk kategori penyimpangan) secara
signifikan, yaitu sejumlah 57 pengaduan di Tahun 2013 yang kemudian anjlok ke
angka 15 pengaduan pada pertengahan Tahun 2014. Dalam hal ini, penulis berusaha
mengkaitkan peristiwa ini dengan waktu diluncurkannya Case Organizer Program (COP) yaitu sejak tanggal 23 Mei 2013.
Penurunan pengaduan masyarakat ini sangat signifikan terutama pada kategori
ketidakprofesionalan anggota dan kategori kelambatan penanganan perkara. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui pendapat
Felson (2002) yang menyatakan bahwa pencegahan korupsi dapat dilakukan dengan
beberapa cara, salah satunya dengan meningkatkan resiko yang dirasakan. Resiko
ini muncul sebagai bentuk heuristic
yang dialami oleh penyidik, bahwa dengan ketatnya pengendalian menggunakan Case Organizer Program (COP) dapat
memperbesar resiko terdeteksinya penyimpangan pekerjaan, khususnya pada produk
administrasi penyidikan yang ia buat dan di-entry
ke server Case Organizer Program
(COP). Keputusan yang diambil penyidik untuk tidak melakukan perbuatan
menyimpang ini menguatkan Prospect Theory
yang dikemukakan oleh Kahnemann dan Tversky[3] bahwa
seseorang membuat keputusan berdasarkan nilai potensi kerugian dan keuntungan
daripada hasil akhir, dan orang-orang menilai kerugian dan keuntungan tersebut
dengan menggunakan heuristic
tertentu.
2) Karena thitung < – ttabel maka diputuskan terima H1 artinya
terdapat pengaruh kepemimpinan terhadap penyimpangan
anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya). Hasil ini menggariskan bahwa supervisor
penyidik yang dijabat oleh Para Kanit dan Kasubnit Reskrim mempunyai peran yang
besar pada upaya-upaya mengurangi penyimpangan yang dilakukan oleh penyidik di
Satreskrim Polrestabes Surabaya. Hal ini sangat terkait dengan peran seorang
supervisor yaitu memastikan bahwa mutu
yang diharapkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi
memenuhi standar yang telah ditentukan. Dengan mengacu pada konsep kepemimpinan transformasional, maka pendapat Suripto tentang pola kepemimpinan transformasional yang tepat diterapkan di Kepolisian RI teruji kesahihannya[4].
3) Karena thitung > – ttabel
maka diputuskan terima H0 artinya
tidak terdapat pengaruh pendisplinan
terhadap penyimpangan
anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya). Hal ini menandakan bahwa Teori “X” yang dikemukakan Mc.Gregor [5], yaitu “sifat dasar manusia yang tidak suka bekerja harus
dipaksa, diarahkan, diancam dengan hukuman agar mereka mau memberikan upaya
yang memadai untuk mencapai tujuan organisasi”, tidak berlaku pada
situasi ini. Ada beberapa alasan yang mengemuka, antara
lain karena pengaruh kepemimpinan sangat mendominasi dibandingkan dengan
pendisiplinan (X3) atau dengan kata lain bahwa pendisiplinan melebur menjadi
satu pada variabel kepemimpinan. Selain itu juga sangat dimungkinkan bahwa
prosedur pendisiplinan yang ada belum mampu membatasi perilaku penyidik
Satreskrim Polrestabes Surabaya. Hal ini dapat disebabkan oleh masih
terdapatnya banyak celah dalam prosedur pendisiplinan tersebut, baik dalam
substansi prosedur pendisiplinan ataupun dari konsistensi pelaksanaan prosedur
pendisiplinan yang menjadi tanggung jawab Seksi Profesi dan Pengamanan
Polrestabes Surabaya.
Tabel Uji F (Uji Signifikansi
Simultan)
ANOVAb
|
||||||
Model
|
Sum of Squares
|
df
|
Mean Square
|
F
|
Sig.
|
|
1
|
Regression
|
46075,162
|
3
|
15358,387
|
16,864
|
,000a
|
Residual
|
120212,713
|
132
|
910,702
|
|||
Total
|
166287,875
|
135
|
||||
a.
Predictors: (Constant), X2, X1.
|
||||||
b. Dependent Variable: Y
|
||||||
Sumber
: Hasil Pengolahan Data Lapangan, 2014.
Keputusan:
Karena Fhitung > Ftabel maka diputuskan terima H1
artinya terdapat pengaruh efektivitas pengendalian Case Organizer Program (COP), kepemimpinan dan pendisplinan
terhadap penyimpangan anggota
Satreskrim Polrestabes Surabaya.
Uji Hipotesis Menggunakan Uji Stepwise
Uji Stepwise digunakan untuk
mengetahui berapa besar pengaruh persentase variabel independen variabel utama
dari variabel independen berikutnya, berikut hasil running menggunakan SPSS
ver.19
Tabel Koefisien Determinasi menggunakan Metode Step
Wise
Model Summary
|
||||
Model
|
R
|
R Square
|
Adjusted R Square
|
Std. Error of the
Estimate
|
1
|
0,482a
|
0,232
|
0,227
|
30,86581
|
2
|
0,518b
|
0,269
|
0,258
|
30,23800
|
a. Predictors:
(Constant), X2
b. Predictors:
(Constant), X2, X1
|
||||
Dari kedua tabel di atas, pada model pertama diketahui hubungan antara kepemimpinan
supervisor dan penyimpangan anggota satuan Reskrim Polrestabes Surabaya sebesar
R = 48,2%, ini berarti secara statistik, hubungan antara variabel X2 dan Y, signifikan cukup kuat. Selanjutnya masih
pada model yang sama hasil regresi berganda tersebut (R2) sebesar
0.232, ini membuktikan bahwa kemampuan variabel bebas kepemimpinan supervisor
dapat menjelaskan variasi variabel terikat (penyimpangan anggota satuan Reskrim
Polrestabes Surabaya) adalah sebesar 23,2%
Kemudian pada model kedua diketahui hubungan antara efektivitas
pengendalian Case Organizer Program (COP)
dan kepemimpinan supervisor dengan penyimpangan anggota satuan Reskrim
Polrestabes Surabaya sebesar R = 51,8%, ini berarti secara statistik, hubungan
antara variabel X1 dan X2 dengan Y, signifikan
cukup kuat. Selanjutnya masih pada model yang sama hasil regresi berganda
tersebut (R2) sebesar 0.269, ini membuktikan bahwa kemampuan
variabel bebas efektivitas pengendalian Case
Organizer Program (COP) dan kepemimpinan supervisor dapat menjelaskan
variasi variabel terikat (penyimpangan anggota satuan Reskrim Polrestabes
Surabaya) adalah sebesar 26,9% atau mengalami penambahan prosentase sebesar
3,7% dari model pertama.
Selanjutnya
untuk mengetahui variabel bebas mana saja yang paling berpengaruh atau variabel
bebas mana yang paling besar pengaruhnya terhadap variabel terikatnya,
digunakan metode uji signifikansi parsial stepwise
sebagaimana tertuang pada tabel sebagai berikut :
Tabel Uji t (Uji Signifikansi Parsial)
menggunakan metode Stepwise
Coefficientsa
|
||||||
Model
|
Unstandardized Coefficients
|
Std.ed
Coeffs
|
t
|
Sig.
|
||
B
|
Std. Error
|
Beta
|
||||
1
|
(Constant)
|
158,332
|
12,987
|
12,192
|
0,000
|
|
X2
|
-1,087
|
0,171
|
-0,482
|
-6,367
|
0,000
|
|
2
|
(Constant)
|
131,288
|
16,502
|
7,956
|
0,000
|
|
X2
|
-1,399
|
0,207
|
-0,620
|
-6,772
|
0,000
|
|
X1
|
0,780
|
0,303
|
0,236
|
2,573
|
0,011
|
|
a. Dependent Variable: Y
|
||||||
Sumber
: Hasil Pengolahan Data Lapangan, 2014.
Dari tabel di atas dapat
dijelaskan bahwa model pertama menunjukkan faktor yang paling besar mengurangi
penyimpangan anggota satuan Reskrim Polrestabes Surabaya yaitu kepemimpinan
dengan tingkat konstanta sebesar 1,087. Berdasarkan fakta tersebut di atas, dapat
disimpulkan bahwa upaya mengurangi penyimpangan pekerjaan penyidik Satreskrim
Polrestabes Surabaya sangat ditunjang oleh kepemimpinan supervisor, namun upaya
tersebut menjadi lebih optimal ketika supervisor memberdayakan pengendalian
menggunakan Case Organizer Program (COP).
Berdasarkan fakta tersebut di atas, dapat
digambarkan bahwa pemberdayaan pengendalian menggunakan Case Organizer Program (COP) yang belum efektif saja (yaitu sebesar
3,7%) sudah cukup besar pengaruhnya dalam menurunkan nilai penyimpangan yaitu
sebesar 16,45%. Tentunya apabila
implementasi Case Organizer Program (COP)
ditekan hingga titik maksimal maka penurunan penyimpangan akan jauh lebih
besar lagi.
Kesimpulan
- Terdapat hubungan yang signifikan antara Variabel X (Efektivitas Pengendalian Case Organizer Program (COP), Kepemimpinan Supervisor dan Pendisplinan terhadap Variabel Y (penyimpangan Penyidik satreskrim Polrestabes Surabaya) sebesar 52,6%.
- Variasi variabel terikat (Efektivitas Pengendalian Case Organizer Pogram (COP), Kepemimpinan Supervisor dan Pendisplinan dan Gaya Kepemimpinan) sebesar 27,7%; 72,3% variasi variabel terikat yang belum dapat dijelaskan model ini.
- Terdapat pengaruh (regresi) yang signifikan variabel Kepemimpinan Supervisor (X2) terhadap Penyimpangan Penyidik satuan Reskrim Polrestabes Surabaya (Y) sebesar 23,2%. Dan terdapat pengaruh variabel Efektivitas Pengendalian Case Organizer Program (COP) terhadap Penyimpangan Penyidik satuan Reskrim Polrestabes Surabaya (Y) menambah persentase sebesar 3,7% dari Kepemimpinan Supervisor (X2). Tidak terdapat pengaruh (regresi) yang signifikan variabel Pendisplinan (X3) terhadap Penyimpangan Penyidik satuan Reskrim Polrestabes Surabaya (Y).
- Terdapat pengaruh yang signifikan variabel Efektivitas Pengendalian Case Organizer Program (COP) (X1), Kepemimpinan Supervisor (X2) dan Pendisplinan (X3) terhadap Penyimpangan Penyidik satuan Reskrim Polrestabes Surabaya (Y) atau ketiga variabel ini secara bersama – sama berpengaruh terhadap Penyimpangan Penyidik satuan Reskrim Polrestabes Surabaya (Y) sebesar 27,7%
Saran
- Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai variabel atau faktor lain yang berpengaruh terhadap Penyimpangan Penyidik satuan Reskrim Polrestabes Surabaya (Y). Model penelitian ini hanya mencakup persentase yang cukup kecil, dan masih ada potensi 72,3% yang dapat digali dan lebih fokus dalam menemukan upaya terbaik dalam menekan penyimpangan penyidik di Satuan Reskrim Polrestabes Surabaya.
- Dengan ditemukannya fakta bahwa pengendalian Case OrganizerProgram (COP) efektif mendongkrak kemampuan kepimpinan di level supervisor, maka Korps Reserse Kriminal mempunyai alasan yang kuat untuk melanjutkan pengembangan sistem informasi ini ke level yang lebih tinggi.
- Supaya implementasi teknologi informasi dalam pelaksanaan tugas Polri dapat diterima dengan baik sebagai perubahan organisasional, maka diperlukan langkah-langkah komprehensif terkait manajemen perubahan.
- Dengan tidak ditemukannya pengaruh yang signifikan antara pendisiplinan terhadap penyimpangan pekerjaan penyidik di Satreskrim Polrestabes Surabaya, bukan berarti upaya disiplinair tersebut tidak diperlukan. Perlu dilakukan analisa dan evaluasi terhadap setiap aturan disiplin, khususnya terhadap setiap prosedur pendisiplinan yang menyisakan celah yang cukup bagi perilaku menyimpang.
[1] Sherman, L.W. 1978. Scandal and Reform: Controlling Police Corruption. University of California Press. Hal 120
[2] Cohen, L., and Felson, M. 1979. „Social Change And Crime Rate Trends: A Routine Activity Approach“. American Sociological Review vol. 44
[3] Tversky, A and Kahneman, D. 1973. „Availability: A heuristic for judging frequency and probability“. Cognitive Psychology 5 Journal.
[4] Suripto, 2009. “Kepemimpinan Transformasional Polri”. Jurnal Studi Kepolisian Edisi 071
[5] McGregor, Douglas. 1960. The Human Side of Enterprise. New York: McGraw-Hill

No comments:
Post a Comment