Saturday, July 26, 2014

Polisi Tangkap Polisi : Sebuah Introspeksi


Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia ini menyimpan begitu banyak problematika. Jumlah kendaraan bermotor selain telah menyumbangkan masalah-masalah kemacetan dan kecelakaan, juga telah menimbulkan ekses yang buruk terhadap bidang lembaga pembiayaan. Tercatat lebih dari 6000 unit mobil yang bermasalah hingga tahun 2011 pada salah satu lembaga pembiayaan di Kota Surabaya, dan masalah ini juga dialami oleh 20-an lembaga pembiayaan lainnya. Angka ini juga menjadi pertanda bahwa peredaran mobil gelap sudah dalam taraf yang mengkhawatirkan.
Keteraturan pola penggelapan mobil-mobil kredit ini, baik dari asal lokasi peristiwa, waktu peristiwa, jenis mobil yang digelapkan, hingga pergerakan mobil gelap ini ke arah “pasar mobil gelap” adalah bukti bahwa kejahatan ini sangat terorganisir. Tercatat ada setidaknya 2 sindikat besar penggelapan mobil yang beroperasi di Jawa Timur, satu sindikat dikendalikan oleh oknum TNI dan satu lagi dikendalikan oleh oknum Polri, sungguh tragis. Mereka bekerja secara sistematis dan terputus antar bagian, mulai dari tim yang bekerja di dalam lembaga pembiayaan untuk memperlancar proses kredit mobil, kemudian tim yang menyiapkan “selendang” alias STNK abal-abal baik dari samsat ataupun yang home made, hingga tim yang memasarkan mobil gelap tersebut keluar wilayah.
 Celakanya ada beberapa debt collector (khususnya yang disewa lembaga pembiayaan yang kemudian disebut sebagai external collector), yang tugasnya mencari dan menemukan mobil-mobil gelap tersebut justru berperan sebagai double agent yang men-supply informasi bagi anggota sindikat di atas. Tak heran jika ada mobil kredit macet (mobil KM) mereka tarik dari penguasa fisiknya, namun tidak disetorkan ke kantornya dan justru dijual ke anggota sindikat. Lebih parah lagi, mobil gelap ini dijual ke end user untuk kemudian “ditangkap” lagi oleh collector yang lain. Tak heran jika ada warga yang coba-coba membeli mobil gelap dengan harga murah, kemudian tidak berselang lama kemudian mobil itu ditangkap oleh collector. Be aware!!
Berbagai upaya untuk memerangi sindikat ini telah dilancarkan oleh Polrestabes Surabaya, baik kerjasama dengan lembaga pembiayaan se-Kota Surabaya, maupun pengungkapan kasus-kasus terkait. Tidak banyak kasus yang dapat dikembangkan hingga tuntas, karena  sistem sel yang cukup menyulitkan proses investigasi kasus ini. Telah cukup banyak pengungkapan kasus-kasus penadahan mobil gelap ataupun kasus-kasus pemalsuan STNK, namun selama pusat pengendali belum tertangkap maka sindikat ini akan terus beroperasi dan menumbuhkan “tentakel-tentakel barunya”. Dan dari sekian banyak kasus yang terungkap, investigasi mengarah ke satu nama pengendali terbesar : Kompol Zakaria, veteran polisi sabhara yang desersi berbulan-bulan lamanya.

Singkat cerita, berdasarkan arsip Daftar Pencarian Orang (DPO) perwira menengah aktif ini berhasil kami tangkap di sebuah rumah berukuran kecil yang disewa istri gelapnya di pemukiman warga yang padat penduduk saat ia singgah dari luar kota. Pemandangan yang kami lihat saat itu sungguh tidak mengenakkan. Ditangkap dalam kondisi terjerat banyak hutang, dengan wajah yang menua dan tak terawat, bapak tiga anak ini juga terjangkit penyakit diabetes yang cukup parah. Dalam tatapan yang hopeless, dia tidak memberikan perlawanan sedikitpun. Ia meyakinkan saya bahwa ia adalah orang tua yang mengharap perlakuan yang selayaknya dari kami. Sepenuhnya ia sangat menyadari kejahatan apa yang ia telah lakukan dan segala konsekuensinya, seolah ia menghadapi datangnya hari penangkapan yang telah lama ia tunggu. Terbersit dalam pikiran saya saat itu, inikah cerminan anggota kepolisian yang miskin bimbingan dari organisasinya? Berapa banyak lagi anggota yang akan berakhir seperti ini, atau bahkan lebih buruk? What a miserable life…

Tak mau berhenti disitu, kami terus lakukan penggalian informasi dari semua sumber untuk mengembangkan kasus ini, termasuk dari pihak keluarga tersangka. Dan semakin saya bergerak ke dalam, semakin saya menemukan kisah-kisah pilu anggota keluarga yang tersangka telantarkan selama ini. Ternyata kehidupan yang dijalani Kompol Zakaria tidak hanya buruk bagi dirinya sendiri, melainkan juga menyeret orang-orang terdekatnya menuju kesengsaraan. Bagi saya, janganlah kita (khususnya yang berprofesi sebagai polisi) berpikir bahwa kita akan dicintai oleh masyarakat jika keluarga kita sendiri saja tidak mencintai sepenuh hati, terlebih jika yang muncul justru sebuah kebencian. Saya bersyukur dalam hati, melihat ketiga anak Kompol Zakaria masih mampu berdiri tegar dan terus memperjuangkan kehidupan masing-masing. Semoga Tuhan selalu bersama kalian…

Saya terdiam dan berpikir, betapa rentannya kehidupan anggota-anggota polisi yang selalu berdiri di tengah-tengah kebaikan dan keburukan. Masih banyak peluang-peluang lain untuk menjadi Zakaria-zakaria muda karena polisi-lah yang harus melakukan dirty job yang dibebankan oleh negara, yang warga lain tidak akan pernah mau melakukan itu. Dalam kondisi seperti itu, apakah cukup tanggung jawab seorang pimpinan untuk menyejahterakan anggotanya saja? Bukankah seorang ayah harus membimbing anak-anaknya menuju kehidupan sebenarnya yang lebih baik? Apakah luntur semangat seorang “ayah” itu…?

Seorang ayah sudah seharusnya mengingatkan anaknya ketika ia melakukan kesalahan, mengingatkan bahwa uang bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan; bahwa kemewahan itu layaknya rumah megah di tepi jurang; bahwa seorang suami tetap akan kembali ke pelukan istrinya, tidak pada yang lain. Seorang ayah sudah seharusnya menasehati anaknya bahwa kebahagiaan adalah energi yang mengalir dari manusia-manusia lain di sekeliling kita, bukan dari kesenangan yang dinikmati sendiri. Tanpa nasehat-nasehat itu, pimpinan bukanlah pemimpin, bukanlah ayah, melainkan hanyalah komandan bagi anak buahnya, atau boss bagi bawahannya.


Saya teringat di masa kecil, nilai-nilai yang ditanamkan oleh para orang tua dahulu salah satunya : pemeran utama di setiap kisah ialah sang pembela kebenaran. Cinta dan bangga selalu hadir ketika sang pembela kebenaran ini muncul. Apakah rasa itu sudah muncul ketika kita melihat kehadiran polisi -sang pembela kebenaran- saat ini? Padahal dengan memberikan rasa cinta dan kebanggaan bagi orang-orang di sekeliling itu, kita (polisi) sudah bisa hidup dengan penuh kebahagiaan, walaupun dalam banyak keterbatasan. Sungguh merupakan keinginan terbesar saya untuk menjadi polisi yang dicintai, bermanfaat bagi masyarakat banyak, tanpa ada lagi persepsi negatif ketika saya mengenakan pakaian dinas ini. Sungguh saya ingin hidup bahagia…

No comments:

Post a Comment