Surabaya, kota terbesar kedua di
Indonesia ini menyimpan begitu banyak problematika. Jumlah kendaraan bermotor
selain telah menyumbangkan masalah-masalah kemacetan dan kecelakaan, juga telah
menimbulkan ekses yang buruk terhadap bidang lembaga pembiayaan. Tercatat lebih
dari 6000 unit mobil yang bermasalah hingga tahun 2011 pada salah satu lembaga
pembiayaan di Kota Surabaya, dan masalah ini juga dialami oleh 20-an lembaga
pembiayaan lainnya. Angka ini juga menjadi pertanda bahwa peredaran mobil gelap
sudah dalam taraf yang mengkhawatirkan.
Keteraturan pola penggelapan
mobil-mobil kredit ini, baik dari asal lokasi peristiwa, waktu peristiwa, jenis
mobil yang digelapkan, hingga pergerakan mobil gelap ini ke arah “pasar mobil
gelap” adalah bukti bahwa kejahatan ini sangat terorganisir. Tercatat ada
setidaknya 2 sindikat besar penggelapan mobil yang beroperasi di Jawa Timur,
satu sindikat dikendalikan oleh oknum TNI dan satu lagi dikendalikan oleh oknum
Polri, sungguh tragis. Mereka bekerja secara sistematis dan terputus antar
bagian, mulai dari tim yang bekerja di dalam lembaga pembiayaan untuk
memperlancar proses kredit mobil, kemudian tim yang menyiapkan “selendang”
alias STNK abal-abal baik dari samsat ataupun yang home made, hingga tim yang memasarkan mobil gelap tersebut keluar
wilayah.
Celakanya ada beberapa debt collector (khususnya yang disewa lembaga pembiayaan yang kemudian
disebut sebagai external collector),
yang tugasnya mencari dan menemukan mobil-mobil gelap tersebut justru berperan
sebagai double agent yang men-supply informasi bagi anggota sindikat
di atas. Tak heran jika ada mobil kredit macet (mobil KM) mereka tarik dari
penguasa fisiknya, namun tidak disetorkan ke kantornya dan justru dijual ke
anggota sindikat. Lebih parah lagi, mobil gelap ini dijual ke end user untuk kemudian “ditangkap” lagi
oleh collector yang lain. Tak
heran jika ada warga yang coba-coba membeli mobil gelap dengan harga murah,
kemudian tidak berselang lama kemudian mobil itu ditangkap oleh collector. Be aware!!
Berbagai upaya untuk memerangi
sindikat ini telah dilancarkan oleh Polrestabes Surabaya, baik kerjasama dengan
lembaga pembiayaan se-Kota Surabaya, maupun pengungkapan kasus-kasus terkait.
Tidak banyak kasus yang dapat dikembangkan hingga tuntas, karena sistem sel yang cukup menyulitkan proses
investigasi kasus ini. Telah cukup banyak pengungkapan kasus-kasus penadahan
mobil gelap ataupun kasus-kasus pemalsuan STNK, namun selama pusat pengendali
belum tertangkap maka sindikat ini akan terus beroperasi dan menumbuhkan
“tentakel-tentakel barunya”. Dan dari sekian banyak kasus yang terungkap, investigasi
mengarah ke satu nama pengendali terbesar : Kompol Zakaria, veteran polisi sabhara yang desersi
berbulan-bulan lamanya.
Singkat cerita, berdasarkan arsip Daftar Pencarian Orang (DPO)
perwira menengah aktif ini berhasil kami tangkap di sebuah rumah berukuran kecil yang
disewa istri gelapnya di pemukiman warga yang padat penduduk saat ia singgah dari
luar kota. Pemandangan yang kami lihat saat itu sungguh tidak mengenakkan. Ditangkap
dalam kondisi terjerat banyak hutang, dengan wajah yang menua dan tak terawat, bapak
tiga anak ini juga terjangkit penyakit diabetes yang cukup parah. Dalam tatapan
yang hopeless, dia tidak memberikan
perlawanan sedikitpun. Ia meyakinkan saya bahwa ia adalah orang tua yang mengharap
perlakuan yang selayaknya dari kami. Sepenuhnya ia sangat menyadari kejahatan apa yang ia telah lakukan dan segala konsekuensinya, seolah ia menghadapi datangnya hari
penangkapan yang telah lama ia tunggu. Terbersit dalam pikiran saya saat itu,
inikah cerminan anggota kepolisian yang miskin bimbingan dari organisasinya? Berapa
banyak lagi anggota yang akan berakhir seperti ini, atau bahkan lebih buruk? What a miserable life…
Tak mau berhenti disitu, kami terus lakukan penggalian
informasi dari semua sumber untuk mengembangkan kasus ini, termasuk dari pihak
keluarga tersangka. Dan semakin saya bergerak ke dalam, semakin saya menemukan
kisah-kisah pilu anggota keluarga yang tersangka telantarkan selama ini. Ternyata
kehidupan yang dijalani Kompol Zakaria tidak hanya buruk bagi dirinya sendiri,
melainkan juga menyeret orang-orang terdekatnya menuju kesengsaraan. Bagi saya,
janganlah kita (khususnya yang berprofesi sebagai polisi) berpikir bahwa kita akan
dicintai oleh masyarakat jika keluarga kita sendiri saja tidak mencintai
sepenuh hati, terlebih jika yang muncul justru sebuah kebencian. Saya bersyukur
dalam hati, melihat ketiga anak Kompol Zakaria masih mampu berdiri tegar dan
terus memperjuangkan kehidupan masing-masing. Semoga Tuhan selalu bersama
kalian…
Saya terdiam dan berpikir, betapa rentannya kehidupan
anggota-anggota polisi yang selalu berdiri di tengah-tengah kebaikan dan keburukan. Masih
banyak peluang-peluang lain untuk menjadi Zakaria-zakaria muda karena
polisi-lah yang harus melakukan dirty job
yang dibebankan oleh negara, yang warga lain tidak akan pernah mau
melakukan itu. Dalam kondisi seperti itu, apakah cukup tanggung jawab seorang pimpinan untuk
menyejahterakan anggotanya saja? Bukankah seorang ayah harus membimbing
anak-anaknya menuju kehidupan sebenarnya yang lebih baik? Apakah luntur
semangat seorang “ayah” itu…?
Seorang ayah sudah seharusnya mengingatkan anaknya ketika ia
melakukan kesalahan, mengingatkan bahwa uang bukanlah satu-satunya sumber
kebahagiaan; bahwa kemewahan itu layaknya rumah megah di tepi jurang; bahwa
seorang suami tetap akan kembali ke pelukan istrinya, tidak pada yang lain. Seorang
ayah sudah seharusnya menasehati anaknya bahwa kebahagiaan adalah energi yang
mengalir dari manusia-manusia lain di sekeliling kita, bukan dari kesenangan
yang dinikmati sendiri. Tanpa nasehat-nasehat itu, pimpinan bukanlah pemimpin,
bukanlah ayah, melainkan hanyalah komandan bagi anak buahnya, atau boss bagi bawahannya.
Saya teringat di masa kecil, nilai-nilai yang ditanamkan
oleh para orang tua dahulu salah satunya : pemeran utama di setiap kisah ialah
sang pembela kebenaran. Cinta dan bangga selalu hadir ketika sang pembela
kebenaran ini muncul. Apakah rasa itu sudah muncul ketika kita melihat
kehadiran polisi -sang pembela kebenaran- saat ini? Padahal dengan memberikan rasa cinta dan
kebanggaan bagi orang-orang di sekeliling itu, kita (polisi) sudah bisa hidup dengan penuh
kebahagiaan, walaupun dalam banyak keterbatasan. Sungguh merupakan keinginan
terbesar saya untuk menjadi polisi yang dicintai, bermanfaat bagi masyarakat
banyak, tanpa ada lagi persepsi negatif ketika saya mengenakan pakaian dinas
ini. Sungguh saya ingin hidup bahagia…
